Beranda | Artikel
Menegakkan Keadilan Karena Allah Subhanahu wa Taala
Kamis, 31 Januari 2019

Bersama Pemateri :
Ustadz Abdullah Taslim

Menegakkan Keadilan Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala  merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. dalam pembahasan Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 3 Jumadal Awwal 1440 H/ 10 Januari 2019 M.

Status Program Kajian Kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah

Status program kajian kitab Ar-Risalah At-Tabukiyyah: AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Kamis pagi, pukul 07:00 - 08:00 WIB.

Download juga kajian sebelumnya: Setia Mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Kajian Islam Ilmiah Tentang Menegakkan Keadilan Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala

Kita masih melanjutkan pembahasan yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah berkenaan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di surah An-Nisa’ ayat 135:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّـهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّـهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَن تَعْدِلُوا ۚ وَإِن تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّـهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا ﴿١٣٥﴾

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa`[4]: 135)

Telah kita bahas pada pertemuan yang lalu, Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan tentang makna ayat ini secara umum. Kewajiban untuk kita menegakkan keadilan dalam menghadapi siapapun. Baik orang yang kita sukai maupun kita tidak sukai. Tentu keadilan yang dimaksud sesuai dengan tuntunan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala Al-Qur’an dan sunnah berdasarkan pemahaman para ulama Salaf.

Menegakkan keadilan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan adil. Kita tidak boleh berat sebelah dalam menegakkannya. Sampaipun kita berhadapan dengan orang-orang yang paling dekat hubungannya dengan kita sendiri.

Menegakkan Keadilan Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala

Disini diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala. Saksi adalah orang yang memberitakan satu kejadian yang disaksikannya. Kalau dia memberitakan dengan benar, maka dia adalah saksi adil yang diterima. Tapi kalau dia memberitakan sesuatu yang salah, maka dia adalah saksi palsu.

Maka dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk menjadi saksi-saksi karena Allah dengan tetap menegakkan keadilan. Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menegakkan persaksian dengan adil, juga persaksian itu ditujukan karena Allah semata-mata, bukan karena selainnya.

Perintah yang terkandung dalam ayat ini adalah perintah untuk berlaku adil karena keadilan inilah yang lebih dekat dengan ketakwaan. Yang dimaksud dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala diayat yang lain:

…اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ…

“...Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” (QS. Al-Maidah[5]: 8)

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala kemudian menjelaskan diayat yang lain yang menjelaskan perintah seperti ini juga dalam surat Al-Maidah ayat ke 8. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّـهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ…

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil…“(QS. Al-Maidah[5]: 8)

Kedua ayat ini mengandung empat perkara didalamnya. Yaitu:

  • menegakkan keadilan
  • menegakkan keadilan karena Allah
  • bersaksi dengan adil
  • persaksian itu dilakukan karena Allah.

Kata Imam Ibnul Qayyim selanjutnya, ayat didalam surat An-Nisa’ tadi dikhususkan untuk menegakkan keadilan dan persaksian karena Allah. Sedangkan ayat yang terdapat dalam surat Al-Maidah adalah menegakkan karena Allah dan bersaksi dengan adil.

Kenapa dibedakan seperti ini? Padahal kedua-duanya dekat maknanya. Karena ada hikmah atau rahasia yang sangat indah, yang sangat mengagumkan yang terdapat di kedua ayat ini dari rahasia-rahasia kandungan Al-Qur’an.

Yang jelas, disini ada perintah untuk menegakkan keadilan. Keadilan termasuk dalam masalah bersikap terhadap orang yang kita sukai atau orang yang kita tidak sukai. Ketika kita membaca pendapat, kalau kita tahu pendapat tersebut tidak didukung dengan dalil sampai pun orang yang kita cintai yang mengungkapkannya, kita harus katakan bahwa ini pendapat yang lemah karena tidak didukung dengan dalil. Hal ini supaya kita selalu melatih diri kita bersikap adil dalam semua keadaan.

Diayat ini selanjutnya, “Meskipun kamu itu bersaksi atas dirimu sendiri atau kedua orang tuamu atau kerabat kerabat dekatmu.” Subhanallah, disini diterangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menegakkan keadilan dan bersaksi dengan adil atas setiap orang.

Kita bersaksi untuk menjelaskan keadaan setiap orang, meskipun itu orang yang paling dicintai oleh hamba itu sendiri. Maka dia harus menegakkan keadilan ketika dia bersaksi atas dirinya atau kedua orangtuanya yang merupakan asal dirinya. Ataupun terhadap kerabat-kerabat dekatnya yang mereka adalah orang-orang yang mempunyai kedudukan khusus pada dirinya. Orang-orang yang paling dekat hubungan dengan dirinya dibandingkan semua manusia.

Maka jika kecintaan pada diri hamba terhadap dirinya sendiri, terhadap kedua orangtuanya atau kerabat-kerabat dekatnya mencegah dia untuk menegakkan kebenaran, menegakkan keadilan, terutama ketika kebenaran itu ternyata ada pada orang yang dibencinya, maka dalam keadaan seperti ini tidak akan bisa menegakkan keadilan kecuali orang-orang yang kecintaan dalam dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya lebih kuat daripada kecintaan kepada siapapun.

Jelas, tentu saja kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri, terhadap kedua orangtuanya, kecintaan terhadap kerabatnya, ini asalnya adalah fitrah manusia. Tentu dia mencintai orang-orang yang dekat hubungannya dengan dirinya. Tapi ketika fitrah ini bertentangan atau dituntut untuk diluruskan ketika menghadapi hukum Allah, tentu kita harus didahulukan hukum Allah. Perintah untuk menegakkan persaksian dengan adil ketika mempersaksikan diri sendiri atau kerabat keluarga yang terdekat dengan kita, apalagi orang tua kita yang kecenderungan kita adalah untuk membela mereka.

Ketika diperintahkan untuk kita bisa menegakkan dengan seadil-adilnya sampaipun itu menyangkut kesalahan mereka dan membenarkan lawan atau musuh (orang yang kita benci), ini yang bisa mendengarkannya hanyalah orang-orang yang hatinya didominasi oleh kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Yang kecintaan tersebut lebih besar daripada kecintaan kepada siapapun. Inilah ciri-ciri orang yang imannya benar, yang bisa meluruskan fitrahnya untuk diarahkan kepada kebaikan.

Maka ini adalah sebab bagi seseorang untuk seorang hamba itu menguji imannya. Kemudian dia bisa mengenal kedudukan iman dihatinya dan bagaimana keadaan iman itu. Apakah iman itu benar-benar lebih dominan atau lebih kuat dibandingkan keinginan dari tabiat hawa nafsunya? Atau ternyata keadannya sebaliknya.

Sebaliknya, keadilan seorang hamba, dia bisa bersikap adil terhadap musuh-mushnya atau orang-orang yang menyakiti dirinya. Bahwasannya tidak pantas bagi hamba, kebenciannya membawa dia untuk berlaku dzalim terhadap orang-orang yang dimusuhinya. Sebagaimana tidak pantas kecintaannya terhadap dirinya, kecintaannya terhadap kedua orang tuanya atau kerabat dekatnya membawa dia untuk menegakkan sikap adil.

Simak penjelasannya pada menit ke – 16:36

Download dan Sebarkan mp3 Ceramah Agama Islam Tentang Menegakkan Keadilan Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/46534-menegakkan-keadilan-karena-allah-subhanahu-wa-taala/